Kamis, 09 Juni 2011

“Merdeka dan ikhlas”

REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT


Belajar filsafat adalah belajar tentang bagaimana kita bisa menempatkan diri sendiri. Sebagai hamba Tuhan, makhluk sosial, dan sebagai manusia terhadap makhluk lainnya. Kita harus dapat memanfaatkan diri kita sesuai dengan fungsi yang melekat pada masing-masing peran.
Kita dikatakan lancang apabila kita berbicara tidak pada tempatnya. Contoh kecil yang bisa kita temui misalnya ketika kita berbicara tentang hakekat. Kita dikatakan lancang ketika kita berbicara tentang hakekat di pasar, dengan orang yang tidak mengerti sama sekali tentang hakekat itu sendiri.
Sama halnya dengan kesombongan berfilsafat. Yaitu ketika orang berbicara tidak menurut kapasitas yang dimilikinya. Seharusnya kita dapat lebih berkaca pada diri sendiri ketika akan mengatakan sesuatu hal. Baik itu secara formal maupun secara informal. Tidak ada gunanya bahkan akan menimbulkan kerugian yang besar apabila kita berbicara mengenai sesuatu hal yang tidak kita pahami. Sesuatu hal yang bukan pada kapasitasnya kita berbicara akan membuat kita kebingungan sendiri. Oleh karena itu, alangkah sebaiknya jika kita memposisikan diri kita sesuai dengan apa yang kita miliki. Tidak perlu saling berebut gengsi dan berbicara seolah-olah kita yang paling paham akan hal yang dibicarakan.
Segala sesuatu dalam kehidupan ini patut untuk diperhitungkan. Karena pada kenyataannya, dalam kehidupan ini selalu kita jumpai resiko, harapan dan tantangan. Yang terpenting untuk dilakukan adalah mengelola secara seimbang ketiga hal tersebut. Resiko tidak akan mengubah hidup kita menjadi sia-sia jika kita pandai mengolahnya. Begitu juga dengan harapan dan tantangan. Setiap langkah kehidupan kita hendaknya kita awali dengan sebuah harapan. Karena orang yang memiliki harapan adalah orang yang beruntung. Tidak peduli seberapa besar tantangan yang ada di depan kita setelah kita mencanangkan harapan itu. Yang harus kita lakukan adalah berjalan terus dan menghadapinya. Dengan segala kekuatan yang ada pada diri kita. Dan keyakinan di sini sangat diperlukan. Ketika kita memiliki harapan, maka harapan itu akan semakin kuat dan semakin mudah kita jalani jika kita memiliki keyakinan yang kuat. Keyakinan di sini mutlak diperlukan dalam perwujudan harapan yang kita inginkan.
Kehidupan yang kita jalani sekarang adalah kontradiksi. Tepatnya hidup adalah kontradiksi. Oleh karena itu sangat diperlukan keyakinan untuk mempertahankan idealisme. Hidup yang memiliki arah tujuan yang jelas akan semakin mudah kita tempuh jika kita mampu mempertahankan dan selalu menjaga idealisme kita. Jika tidak seperti itu, maka kita akan mudah terombang-ambingkan.
Begitu pula dengan matematika. Tepatnya filsafat matematika. Dalam filsafat matematika, kita hendaknya dapat menempatkan siswa sebagai subjek dan objek. Seperti apa yang dikatakan Dr Marsigit “Setinggi-tinggi filsafat matematika adalah sampai pada di mana siswa itu sendirilah sebagai matematika. “
Jadi tidak ada paksaan dalam mempelajari matematika seperti apa yang kita lihat dan kita alami. Dengan begitu, secara sendirinya siswa akan menyadari keberadaan matematika dalam dirinya. Bukan memaksakan matematika untuk masuk dalam pikirannya saja.
Kekreatifan pendidik sangat dituntut untuk banyak berperan di sini. Bukan hanya untuk memotivasi siswa, tetapi juga untuk menanamkan kebebasan berkreasi untuk melekatkan matematika pada setiap jiwa peserta didik. Bukan selalu menuntut peserta didik untuk berada pada level tertentu seperti yang diinginkan. Karena pada kenyataannya, semua tahapan belajar adalah penelitian pada levelnya.
Seperti itulah yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita nantinya sebagai pendidik. Karena dengan begitu, keyakinan untuk “membebaskan” diri dari “kebodohan” perlahan akan tercapai. Sebenarnya bukan pada seberapa kualitas sumber daya manusia yang kita miliki dalam membangun peradaban bangsa ini yang penting, tetapi seberapa jauh kita dapat “memerdekakan” diri untuk memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.
Bekal penting lainnya yang perlu dimiliki adalah keikhlasan. Seperti yang pernah dianalogikan dengan x0 = 1. Di mana angka nol itu sendiri yang melambangkan keikhlasan dan angka satu melambangkan keesaan Tuhan. Apapun yang kita lakukan di dunia ini, jika kita melaksanakannya secara ikhlas dan kita niatkan untuk ibadah, maka sekecil apapun hal yang kita lakukan akan bernilai ibadah di mata Tuhan Yang Maha Esa.