Kamis, 09 Juni 2011

“Merdeka dan ikhlas”

REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT


Belajar filsafat adalah belajar tentang bagaimana kita bisa menempatkan diri sendiri. Sebagai hamba Tuhan, makhluk sosial, dan sebagai manusia terhadap makhluk lainnya. Kita harus dapat memanfaatkan diri kita sesuai dengan fungsi yang melekat pada masing-masing peran.
Kita dikatakan lancang apabila kita berbicara tidak pada tempatnya. Contoh kecil yang bisa kita temui misalnya ketika kita berbicara tentang hakekat. Kita dikatakan lancang ketika kita berbicara tentang hakekat di pasar, dengan orang yang tidak mengerti sama sekali tentang hakekat itu sendiri.
Sama halnya dengan kesombongan berfilsafat. Yaitu ketika orang berbicara tidak menurut kapasitas yang dimilikinya. Seharusnya kita dapat lebih berkaca pada diri sendiri ketika akan mengatakan sesuatu hal. Baik itu secara formal maupun secara informal. Tidak ada gunanya bahkan akan menimbulkan kerugian yang besar apabila kita berbicara mengenai sesuatu hal yang tidak kita pahami. Sesuatu hal yang bukan pada kapasitasnya kita berbicara akan membuat kita kebingungan sendiri. Oleh karena itu, alangkah sebaiknya jika kita memposisikan diri kita sesuai dengan apa yang kita miliki. Tidak perlu saling berebut gengsi dan berbicara seolah-olah kita yang paling paham akan hal yang dibicarakan.
Segala sesuatu dalam kehidupan ini patut untuk diperhitungkan. Karena pada kenyataannya, dalam kehidupan ini selalu kita jumpai resiko, harapan dan tantangan. Yang terpenting untuk dilakukan adalah mengelola secara seimbang ketiga hal tersebut. Resiko tidak akan mengubah hidup kita menjadi sia-sia jika kita pandai mengolahnya. Begitu juga dengan harapan dan tantangan. Setiap langkah kehidupan kita hendaknya kita awali dengan sebuah harapan. Karena orang yang memiliki harapan adalah orang yang beruntung. Tidak peduli seberapa besar tantangan yang ada di depan kita setelah kita mencanangkan harapan itu. Yang harus kita lakukan adalah berjalan terus dan menghadapinya. Dengan segala kekuatan yang ada pada diri kita. Dan keyakinan di sini sangat diperlukan. Ketika kita memiliki harapan, maka harapan itu akan semakin kuat dan semakin mudah kita jalani jika kita memiliki keyakinan yang kuat. Keyakinan di sini mutlak diperlukan dalam perwujudan harapan yang kita inginkan.
Kehidupan yang kita jalani sekarang adalah kontradiksi. Tepatnya hidup adalah kontradiksi. Oleh karena itu sangat diperlukan keyakinan untuk mempertahankan idealisme. Hidup yang memiliki arah tujuan yang jelas akan semakin mudah kita tempuh jika kita mampu mempertahankan dan selalu menjaga idealisme kita. Jika tidak seperti itu, maka kita akan mudah terombang-ambingkan.
Begitu pula dengan matematika. Tepatnya filsafat matematika. Dalam filsafat matematika, kita hendaknya dapat menempatkan siswa sebagai subjek dan objek. Seperti apa yang dikatakan Dr Marsigit “Setinggi-tinggi filsafat matematika adalah sampai pada di mana siswa itu sendirilah sebagai matematika. “
Jadi tidak ada paksaan dalam mempelajari matematika seperti apa yang kita lihat dan kita alami. Dengan begitu, secara sendirinya siswa akan menyadari keberadaan matematika dalam dirinya. Bukan memaksakan matematika untuk masuk dalam pikirannya saja.
Kekreatifan pendidik sangat dituntut untuk banyak berperan di sini. Bukan hanya untuk memotivasi siswa, tetapi juga untuk menanamkan kebebasan berkreasi untuk melekatkan matematika pada setiap jiwa peserta didik. Bukan selalu menuntut peserta didik untuk berada pada level tertentu seperti yang diinginkan. Karena pada kenyataannya, semua tahapan belajar adalah penelitian pada levelnya.
Seperti itulah yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita nantinya sebagai pendidik. Karena dengan begitu, keyakinan untuk “membebaskan” diri dari “kebodohan” perlahan akan tercapai. Sebenarnya bukan pada seberapa kualitas sumber daya manusia yang kita miliki dalam membangun peradaban bangsa ini yang penting, tetapi seberapa jauh kita dapat “memerdekakan” diri untuk memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.
Bekal penting lainnya yang perlu dimiliki adalah keikhlasan. Seperti yang pernah dianalogikan dengan x0 = 1. Di mana angka nol itu sendiri yang melambangkan keikhlasan dan angka satu melambangkan keesaan Tuhan. Apapun yang kita lakukan di dunia ini, jika kita melaksanakannya secara ikhlas dan kita niatkan untuk ibadah, maka sekecil apapun hal yang kita lakukan akan bernilai ibadah di mata Tuhan Yang Maha Esa.

Rabu, 25 Mei 2011

Tesis dan anti-tesis

Disampaikan pada perkuliahan filsafat Kamis, 19 Mei 2011 oleh Dr Marsigit


Segala sesuatu yang ada di dunia ini ternyata memiliki pasangan. Baik hal-hal yang kita anggap abstrak, maupun hal-hal nyata yang bisa dijelaskan dengan baik. Misalnya saja ketika membicarakan tentang epistemology, kita akan membicarkan dua hal berbeda yaitu benar dan salah. Sedangkan ketika kita membicarakan tentang ontology, maka kita akan membicarakan dua hal berbeda yaitu intensif dan ekstensif, ada dan tidak ada. Banyak sekali hal-hal di dunia ini yang berlawanan tetapi melengkapi satu sama lain. Logos dan mitos merupakan salah satu contohnya. Berikut kutipan dari “Dari Mitos ke Logos (Peranan Filsafat dalam merubah Pola Pikir)” yang ditulis oleh Fajar Kusuma*
Mitos atau mite(myth) adalah cerita prosa rakyat yang tokohnya para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sebagainya. Istilah Mitologi telah dipakai sejak abad 15, dan berati “ilmu yang menjelaskan tentang mitos”. Di masa sekarang, Mitologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan Dewa dan makhluk halus di suatu kebudayaan. Sedangkan logos merupakan cara manusia untuk menjelaskan kehidupan melalui sebuah penelitian. Manusia menjelaskan realita yang ada yang tersebut dengan meneliti gejala-gejala alam maupun peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang mereka terima bukan merupakan wahyu. Karena penjelasan tersebut tidak diterima begitu saja, namun merupakan buah dari pencarian..
Berikut ini merupakan contoh yang menggambarkan perbedaan mitos dan logos. Dalam mitos, pelangi digambarkan sebagai dewa atau dewi. Sedangangkan dalam logos Anaxagoras berpendapat bahwa pelangi adalah pantulan dari matahari yang ditangkap oleh awan. Berbeda lagi dengan Xonophanes yang mengatakan bahwa pelangi merupakan awan itu sendiri. Dua pendapat yang terkahir jelas bukan sebagai mitos melainkan sebagai buah dari pemikiran. Apa yang mereka pikirkan ini merupakan pendapat yang dapat diteliti dan diperdebatkan. Sedangkan pelangi sebagai mitos, hanya bisa diterima secara mentah-mentah sebagai perwujudan dewa-dewi.
Mitos dan logos memiliki perbedaan yang mendasar. Hal itu nampak dengan ada atau tidak adanya penelitan dalam menjelaskan segala sesuatu yang merupakan hubungan manusia dengan alam semesta. Kendati demikian, mitos dan logos tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Logos tidak akan ada, bila tidak ada mitos. Dalam hal ini mitos muncul sebagai awal dari munculnya logos. Tanpa ada mitos, tidak akan ada yang dijelaskan oleh logos. Karena pada dasarnya, logos menjelaskan mitos dengan sebuah penelitian. Perlu kita ketahui, bahwa para filusuf awal menyelidiki alam semesta dan kejadian-kejadian, yang tidak lain ialah mitos itu sendiri.
Maka tidak heran bila akan selalu ada transformasi dunia. Di dalam transformasi ini, tidak ada unsure yang diciptakan secara baru karena semua unsure dan semua sifat sudah ada. Hanya saja, ketika transformasi ini terjadi, maka unsur-unsur tersebut akan berpindah atau berubah menjadi unsur-unsur yang lain.
Begitu pula dengan pikiran kita. Banyak sekali hal-hal yang kita pikirkan dan bersifat berlawanan. Oleh karena itu, dalam proses berpikir itupun diperlukan adanya kekuatan di mana kita hendaknya menggabungkan apa yang kita pikirkan dengan apa yang terjadi. Sehingga nantinya, apa yang menjadi kesimpulan bukanlah sesuatu yang subjektif.
Agama dan budaya juga merupakan dua hal yang sangat berbeda bahkan berlawanan. Ada yang mengatakan bahwa di dalam agama itu ada budaya tapi ada yang mengatakan sebaliknya. Akan tetapi, yang perlu ditekankan di sini adalah cara pandang kita terhadap sesuatu secara bijaksana, yaitu dari berbagai sisi dan pada sisi yang tepat.

*dikutip dari Fajar Kusuma. “Dari Mitos ke Logos (Peranan Filsafat dalam merubah Pola Pikir)”. http://fajarkusuma.student.umm.ac.id/2010/02/05/dari-mitos-ke-logos/.

Rabu, 11 Mei 2011

Tanya jawab perkuliahan filsafat

Jawaban diuraikan oleh Dr Marsigit pada perkuliahan Filsafat, Kamis, 5 Mei 2011

1. Jika kita mempelajari hakekat filsafat, siapa yang akan mempelajari hakekatnya hakekat?
Unsur-unsur filsafat diantaranya adalah:
Ontology
Epistemology
Aksiologi
Dari ketiga unsur di atas, maka ada kaitan dari masing-masing unsur.
Ontologinya ontology adalah hakekatnya hakekat. Jadi dalam hal ini kita mempelajari hakekat dari hakekat itu sendiri. Ontologinya epistemology adalah hakekat cara. Dalam hal ini, hakekat cara menjelaskan hakekat dari metode-metode atau cara-cara yang dilakukan manusia dalam mencapai tujuan tertentu. Sementara ontologinya aksiologi adalah hakekat dari nilai.
Epistemologynya aksiologi adalah mempelajari sumber-sumber aksiologi. Jadi di sini, kita menerangkan sesuatu agar kita memiliki alasan kuat untuk memutuskan sesuatu. Sebaliknya, aksiologinya epistemology adalah mempelajari atau mengkritisi cara.
Epistemoloinya antologi adalah metode dari hakekat. Jadi dalam hal ini, yang dipelajari adalah metode untuk mempelajari hakekat. Sedangkan ontologinya epistemology adalah hakekatnya cara. Hakekatnya cara tidak serta merta membicarakan tentang masalah benar dan salah tetapi lebih menyangkut etik dan estetikanya epistemology.
Epistemologinya epistemology sendiri adalah keberkaitan metode dari metode itu sendiri. Jadi lebih banyak menerangkan tentang etik dan estetika. Misalnya saja ketika berbicara mengenai ritual, maka yang dibahas di sana bukan tentang alasan atau tujuan menyelenggarakan ritual tersebut, tetapi lebih membicarakan tentang nilai-nilai tersembunyai dari adanya ritual-ritual tersebut.
Aksiologinya ontology membahas nilai dari hakekat. Ketika kita membicarakan hakekat, maka kita tidak boleh dan tidak bisa membicarakan hakekat itu di sembarang tempat.
Aksiologinya aksiologi lebih banyak membicarakan tentang etis secara etik. Misalnya saja dalam pernikahan Jawa. Banyak sekali ritual-ritual yang diselenggarakan di sana. Akan tetapi, ternyata secara implisit, ritual-ritual yang diselenggarakan tersebut memiliki makna masing-masing. Terutama dalam memberikan nasehat atau ‘wejangan’ tentang keluarga, khususnya untuk pasangan pengantin. Contoh ritual dalam pernikahan Jawa misalnya kocar kacir (ritual di mana pengantin pria menuangkan beras dan pengantin putri menerimanya) ditafsirkan tentang kewajiban dan tanggung jawab suami kepada istrinya yaitu dalam memberi nafkah.
Jadi, selalu ada kaitan erat dari masing-masing unsur filsafat yaitu ontology, epistemology, dan aksiologi. Sementara itu, jika kita mempelajari hakekat filsafat dan yang mengetahui lebih dalam itu adalah para filsuf, maka ketika kita mempelajari hakekatnya hakekat, maka yang mengetahui lebih banyak adalah Sang Maha Mengetahui itu sendiri.
2. Bagaimana caranya mengajak orang lain untuk sholat?
Ketika kita ingin mengingatkan orang lain untuk mengerjakan suatu kebaikan apalagi kewajiban, maka kita tidak bisa serta merta hanya ‘berceramah’. Tidak bisa hanya berhenti pada tingkat memberitahu, tetapi harus disertai dengan tindakan nyata yaitu mengajak. Tindakan nyata ini tentu saja memerlukan usaha yang besar dan tidak mudah. Oleh karena itu,dari keempat nilai kehidupan, spiritual menduduki peringkat teratas. Secara urut, di bawahnya ada normative, formal, dan material. Untuk melakukan tindakan nyata ‘mengajak’ tersebut, maka kita harus menjadi guru spiritual dari orang tersebut. Yang tidak hanya memberitahu tetapi juga mengajak bahkan memberikan contoh yang benar.
3. Bagaimana peran filsafat dalam pembangunan bangsa?
Filsafat akan sangat berperan dalam pembangunan bangsa ketika pemimpin kita menggunakan filsafat untuk ‘eksploitasi’ orang lain. Maka pemimpin tersebut tidak akan serta merta menentukan sesuatu hanya dipandang dari sudut terpenting saja, melainkan akan dipertimbangkan dan ditentukan setelah memandang banyak sudut. Ketika kita membicarakan tentang pendidikan karakter misalnya, kita tidak hanya berbicara tentang pendidikan yang membawa kemanfaatan dilihat dari karakternya. Karena di sini, karakter itu sendiri berarti dari siapa untuk siapa. Jadi sangat relative sekali karena karakter itu tergantung pada masing-masing orang. Maka dari itu, perlu ditinjau lebih dalam lagi jika kita akan membicarakan karakter. Pembicaraan ini akan sangat menyangkut dengan filsafat juga. Karena ketika kita berfilsafat, maka sifat dari filsafat itu sendiri adalah open ended (berakhir dengan keterbukaan). Jadi tidak ada paksaan untuk mempelajarinya karena ia akan mengalir dalam jiwa seseorang.
4. Bagaimana memahami karakter siswa dengan komunikasi?
Memahami karakter siswa memang salah satunya dengan komunikasi. Jika berjalan dengan baik, maka akan terjalin komunikasi yang efektif sehingga kita bisa memahami karakter siswa. Untuk dunia yang sudah berbasis teknologi seperti sekarang ini, berkomunikasi bisa dijalin melalui banyak pintu. Salah satunya adalah dunia maya. Komunikasi dengan siswa bisa juga melalui media ini karena bisa sangat mendukung.
5. Apakah wayang berkaitan dengan filsafat?
Wayang adalah salah satu bentuk atau contoh dari aksiologi. Banyak sekali nilai-nilai yang didapatkan dari wayang. Memang tidak semua bisa didapatkan secara langsung (eksplisit), tetapi memerlukan penjelasan yang lebih mendalam akan unsur-unsur atau symbol-simbol yang digunakan dalam wayang . Di sinilah peran filsafat lebih jauh karena dapat menjelaskan dengan lebih jelas.
6. Bagaimana cara menghilangkan gugup?
Cara menghilangkan gugup adalah dengan berdoa. Karena ketika kita gugup, maka yang mengalami gugup adalah hati kita. Gugup dan panic hati tersebut disebabkan oleh godaan setan. Oleh karena itu, untuk berlindung dari godaan setan tersebut, yang dapat kita lakukan adalah berdoa.
Berbeda ketika kita mengalami panic atau gugup pikiran. Ketika yang terjadi adalah panic pikiran, maka kita justru bersyukur karena dengan panic pikiran tersebut, ternyata otak kita berkembang. Pikiran kita sedang berjalan dan berpikir kritis sehingga akan ada calon ilmu yang masuk ke pikiran kita. Maka sebaiknya kita terus mengasah otak kita agar semakin banyak ilmu yang kita dapatkan.
7. Apa hubungannya filsafat dengan sejarah?
Filsafat sangat berkaitan erat dengan sejarah. Filsafat adalah yang tadi, sekarang dan nanti. Jadi, jika sejarah membicarakan tentang sesuatu yang telah lewat, maka dalam hal ini tergolong yang tadi dalam filsafat. Oleh karena itu, filsafat memiliki peran yang sangat besar pula dalam menjelaskan sesuatu “yang tadi”. Dan akan banyak sekali manfaat yang akan kita peroleh dari membicarakan ‘yang tadi’ tersebut.
8. Apa hubungannya filsafat dengan gending jawa?
Filsafat dan gending jawa memiliki persamaan yaitu memiliki harmoni. Harmoni yang terjadi dig ending jawa adalah ketika ada satu suara yang berbunyi maka ternyata ada suara lain yang berbunyi bersamaan. Demikian pula dengan filsafat. Jika kita bisa menerapkan keharmonian itu, maka layaknya kita dapat merasakan perasaan orang lain itu sudah disebut dengan harmoni. Jadi keduanya bisa membuat kita sadar akan ruang dan waktu.
9. Mengapa Syekh Siti Jenar menganggap dirinya Tuhan?
Ketika kita sudah sampai pada ritual yang paling tinggi, maka kita tidak akan mampu mengendalikan pikiran kita. Karena di sana, yang mengendalikan kita adalah Sang Maha Pencipta. Ketika suatu saat kita merasakan sudah menyatu dengan Tuhan, maka apa yang kita lakukan tersebut adalah apa yang Tuhan kehendaki untuk kita. Akan tetapi, ketika kita mengklaim bahwa kita itu sama dengan Tuhan karena kita merasa bahwa kita sudah menyatu denganNya, maka tindakan kita ini adalah kesombongan. Seperti apa yang dilakukan oleh Syekh Siti jenar. Maka, dia tidak lagi dikendalikan lagi oleh Sang Pencipta, tetapi oleh hawa nafsunya karena kesombongannya.
10. Bagaimana menjadi orang yang bijaksana?
Kebijaksanaan yang sesungguhnya adalah miliki Tuhan semata. Orang hanya dapat berusaha untuk mendekati kebijaksanaan tersebut. Sementara itu, di dalam filsafat Barat, orang yang bijaksana adalah orang yang berilmu. Maka banyak orang yang berilmu akan dihormati karena diakui bijaksananya. Berbeda dengan di wilayah Timur, orang yang bijaksana adalah orang yang memberikan ilmu. Bukan memilikinya saja, tetapi juga memberikannya kepada orang lain. Di Jogja, orang yang bijaksana adalah orang yang memiliki karsa dan menerapkan ilmunya.
11. Bagaimana mengajarkan matematika inovatif?
Yang kita lakukan seharusnya bukan mengajarkan tetapi membelajarkan. Matematika inovatif itu sendiri adalah membelajarkan matematika di mana seorang pendidik tidak lagi berperang sebagai center tapi sebagai fasilitator. Dengan itu, kekreatifan siswa akan muncul. Hal ini terjadi dengan syarat merdeka atau bebas. Jadi siswa tersebut berada pada kondisi bebas, tidak di bawah tekanan. Yang dapat dilakukan fasilitator untuk mendukung munculnya kreatif pada siswa adalah dengan mengondisikan keadaan atau suasana. Dengan demikian, kreatif akan muncul sendiri tanpa kita harus meminta para siswa.
12. Bagaimana kita menghargai waktu?
Waktu sangat berharga. Bahkan ada yang mengatakan bahwa waktu adalah uang. Ketika kita mengabaikan waktu, sebenarnya tidak serta merta kita mengabaikannya. Akan tetapi, kita sedang menghargai waktu untuk hal lain. Karena ketika kita menghargai waktu untuk hal tertentu, di satu sisi kita mengabaikan waktu tersebut untuk hal lain. Oleh karena itu, yang sangat diperlukan di sini adalah menempatkan kegiatan-kegiatan kita pada skala prioritas. Jadi kita akan benar-benar menghargai waktu pada porsinya ketika kita memang harus mengabaikan waktu kita untuk hal lain yang lebih penting.

Ditulis oleh Siti Kuryati
Pendidikan Matematika
08301241028

Rabu, 27 April 2011

“Filsafat Matematika dan Pendidikan Matematika”

Materi Kuliah filsafat
Disampaikan oleh Bapak Marsigit
Kamis, 21 April 2011

“Filsafat Matematika dan Pendidikan Matematika”

Peradaban yang semakin berkembang salah satunya ditandai dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan. Peradaban besar suatu bangsa akan menunjukkan ciri khas bangsa tersebut. Tidak terkecuali dalam matematika dan filsafat. Bangsa Yunani telah mengawali pemikiran mereka sejak berabad-abad yang lalu. Orang-orang Yunani mulai memikirkan matematika dari fenomena kehidupan. Pemikiran ini menjadi sebuah abstraksi dan idealisasi yang didukung oleh adanya bukti-bukti nyata di alam. Dilihat dari sudut pandang pemikiran transenden (noumena), maka abstraksi dan idealisasi tersebut dibagi menjadi dua yaitu: 1) tetap (oleh Permenides) karena ada dalam pikiran manusia; 2)berubah (oleh Heraclites) karena berada di luar pikiran manusia.
Segala sesuatu dalam kehidupan terdiri dari sistem, struktur, bangunan, dan fondamen. Dari keempat unsur ini, kita bisa mendapatkan sesuatu yang jelas atau dapat dikatakan foundamentalism. Berbeda dengan foundamentalism, dari unsur tersebut kita juga bisa mendapatkan sesuatu yang tidak mengakui adanya awal atau dapat dikatakan sebagai intuisionism.
Pada kenyataannya, matematika dapat diurai menjadi tunggal, dual, multi, atau pluralism. Dari keempat uraian tersebut, matematika dapat dibagi menjadi dua kategori besar yaitu abstrak dan relatif. Keduanya digunakan untuk menjelaskan pemikiran secara ekstensif (berpikir seluas-luasnya sampai tidak ada batas) dan intensif(berpikir secara mendalam sedalam-dalamnya).
Dua pembagian besar dalam kehidupan ini, terutama yang membedakan filsafat matematika dan pendidikan matematika, adalah dua hal besar yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Pemahaman lebih mendalam dapat kita dapatkan bila kita mempelajari filsafat. Itulah pentingnya berfilsafat. Kita dapat menguraikan menjadi tiga hakekat besar dari filsafat yaitu ontologi, epistemology, dan aksiologi.
Dua hal besar tersebut adalah Sesuatu yang terbebas oleh ruang dan waktu, sementara hal besar lain adalah sesuatu yang terikat oleh ruang dan waktu. Sesuatu yang terbebas oleh ruang dan waktu menjadi dasar filsafat matematika. Salah satu tokohnya adalah Hilbert yang mengemukakan tentang bangunan matematika, diambil dari pikiran manusia transenden atau noumena. Bangunan matematika tersebut di antaranya foundamentalis, formalis, aksiomatis. Segala sesuatu yang terjadi di sini, bahkan yang dipikirkan di sini selalu terbebas oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, beberapa sifat yang mengikuti di antaranya adalah Hukum Identitas, absolute, konsisten, tunggal, dan koheren (kebenaran berdasarkan logika).
Berbeda jauh dengan hal besar kedua. Segala sesuatu dalam hal ini (ada dalam kehidupan manusia) selalu terikat oleh ruang dan waktu. Maka, sifat-sifat yang mengikutinya antara lain adalah kotradiktif, relative, plural, dan korespondensi (kebenaran berdasarkan fakta). Hal inilah yang menjadi dasar pemikiran dalam filsafat pendidikan matematika. Dalam hal ini, karena terikat oleh ruang dan waktu, kita dapat menjelaskan sesuatu lebih jelas menggunakan hukum kontradiktif.
Oleh karena itu, muncullah Matematika Realistik. Dalam matematika realistik ini, pemikiran atau pembelajaran tentang matematika dibagi menjadi 4 bagian besar yang dapat digambarkan dalam suatu piramida karena semakin mengerucut ke atas, maka akan semakin tinggi dan semakin rumit pemikirannya. Yang terletak di bagian dasar dari piramida tersebut adalah benda konkrit di mana hal ini diterapkan di SD. Kemudian di tingkat atasnya ada skema. Diterapkan di pembelajaran SD/ SMP. Selanjutnya ada modul yang diterapkan di pembelajaran SMP/ SMA. Yang menduduki puncak piramida adalah abstrak atau formal yang diterapkan pada pembelajaran SMA atau perguruan tinggi.
Semakin ke atas, ilmu yang dipelajari semakin mendalam. Oleh karena itu, pemikiran yang dibutuhkan juga harus lebih luas mengingat yang dipelajari di sana bukan hanya benda-benda nyata yang terlihat di alam melainkan juga benda-benda abstrak yang ada dalam pikiran manusia. Di sinilah pentingnya filsafat untuk mendukung dan menjelaskan. Karena segala sesuatu akan menjadi jelas dan dapat kita tangkap lebih mudah apabila terikat oleh ruang dan waktu.



Oleh Siti Kuryati

Rabu, 13 April 2011

MERUAT DIRI

Materi Kuliah filsafat
Disampaikan oleh Bapak Marsigit
Kamis, 7 April 2011

“Meruwat diri”
Betapa kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini begitu luas. Setiap ruang kosong yang ada, akan membentuk perkumpulan sendiri untuk menerjemahkan arti dirinya. Setiap apapun yang terlihat di bumi ini, berasal dari sebuah titik kecil yang kemudian menyusun dan mengumpul dengan yang lain menjadi garis, lingkaran, kubus, sampai spiral. Pada kenyataannya, diri kita adalah bagian dari titik tersebut. Hanya bagian saja dari titik yang sangat kecil. Tapi terkadang kita tidak menyadari betapa kecilnya kita sehingga sombong masih ada meliputi diri.
Titik yang ada di bumi ini, bila kita pikirkan, kita kembangkan dalam pikiran kita, akan menjadi sebuah konsep tertanam dalam pikiran. Dan konsep yang telah ada dalam pikiran kita itu adalah sebuah idealism yang ternyata sudah merupakan separuh dari dunia kita sendiri. Sementara kehidupan kita di ala mini, berinteraksi dengan manusia lain sebagai makhluk sosial, kita akan memperoleh separuh dunia yang lain lagi.
Hidup di masyarakat adalah suatu kebutuhan di mana kita bisa belajar dan membelajarkan banyak hal dari sana. Banyak hal-hal penting dan tidak penting yang terjadi , harus menjadi suatu evaluasi diri. Karena sering ditemukan, bahwa belajar dan berinteraksi di masyarakat, kita sangat memerlukan adaptasi diri. Terutama pada lingkungan yang baru. Keanehan-keanehan yang terjadi di masyarakat sudah wajar saja muncul di permukaan bumi ini. Karena memang begitulah hidup, tidak bisa berjalan secara monoton. Adanya anomaly tersebut lah yang akan memberikan warna lain, bahkan membelajarkan kita untuk lebih banyak lagi mencari ilmu. Tidak hanya ilmu pasti seperti science saja yang kita perlukan, tapi berbagai ilmu yang mungkin terkadang kita tidak menyebutnya sebagai ilmu.
Begitu juga dengan filsafat, pada dasarnya ada dan melekat pada diri kita sendiri. Bukan pada materi yang kita pelajari atau dikembangkan oleh para ahli. Bahasa menerjemahkan merupakan ciri khas yang dapat kita bangun. Seperti tradisi yang sering ada dalam masyarakat,”ruwatan”, maka setiap diri memang seharusnya melakukan “ruwat” kepada dirinya sendiri. Agar apa yang selama ini telah dilakukan, dapat dievaluasi sejak dini. Meruwat diri ini, menurut saya adalah sebuah kebutuhan, karena tidak setiap orang dapat memahami dan mengerti apa yang ada dalam diri kita. Banyak sekali hal yang dapat kita pelajari untuk dapat meruwat diri melalui filsafat ini. Karena pada dasarnya, filsafat itulah diri kita.
Siti Kuryati