Materi Kuliah filsafat
Disampaikan oleh Bapak Marsigit
Kamis, 7 April 2011
“Meruwat diri”
Betapa kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini begitu luas. Setiap ruang kosong yang ada, akan membentuk perkumpulan sendiri untuk menerjemahkan arti dirinya. Setiap apapun yang terlihat di bumi ini, berasal dari sebuah titik kecil yang kemudian menyusun dan mengumpul dengan yang lain menjadi garis, lingkaran, kubus, sampai spiral. Pada kenyataannya, diri kita adalah bagian dari titik tersebut. Hanya bagian saja dari titik yang sangat kecil. Tapi terkadang kita tidak menyadari betapa kecilnya kita sehingga sombong masih ada meliputi diri.
Titik yang ada di bumi ini, bila kita pikirkan, kita kembangkan dalam pikiran kita, akan menjadi sebuah konsep tertanam dalam pikiran. Dan konsep yang telah ada dalam pikiran kita itu adalah sebuah idealism yang ternyata sudah merupakan separuh dari dunia kita sendiri. Sementara kehidupan kita di ala mini, berinteraksi dengan manusia lain sebagai makhluk sosial, kita akan memperoleh separuh dunia yang lain lagi.
Hidup di masyarakat adalah suatu kebutuhan di mana kita bisa belajar dan membelajarkan banyak hal dari sana. Banyak hal-hal penting dan tidak penting yang terjadi , harus menjadi suatu evaluasi diri. Karena sering ditemukan, bahwa belajar dan berinteraksi di masyarakat, kita sangat memerlukan adaptasi diri. Terutama pada lingkungan yang baru. Keanehan-keanehan yang terjadi di masyarakat sudah wajar saja muncul di permukaan bumi ini. Karena memang begitulah hidup, tidak bisa berjalan secara monoton. Adanya anomaly tersebut lah yang akan memberikan warna lain, bahkan membelajarkan kita untuk lebih banyak lagi mencari ilmu. Tidak hanya ilmu pasti seperti science saja yang kita perlukan, tapi berbagai ilmu yang mungkin terkadang kita tidak menyebutnya sebagai ilmu.
Begitu juga dengan filsafat, pada dasarnya ada dan melekat pada diri kita sendiri. Bukan pada materi yang kita pelajari atau dikembangkan oleh para ahli. Bahasa menerjemahkan merupakan ciri khas yang dapat kita bangun. Seperti tradisi yang sering ada dalam masyarakat,”ruwatan”, maka setiap diri memang seharusnya melakukan “ruwat” kepada dirinya sendiri. Agar apa yang selama ini telah dilakukan, dapat dievaluasi sejak dini. Meruwat diri ini, menurut saya adalah sebuah kebutuhan, karena tidak setiap orang dapat memahami dan mengerti apa yang ada dalam diri kita. Banyak sekali hal yang dapat kita pelajari untuk dapat meruwat diri melalui filsafat ini. Karena pada dasarnya, filsafat itulah diri kita.
Siti Kuryati
Rabu, 13 April 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar