Jawaban diuraikan oleh Dr Marsigit pada perkuliahan Filsafat, Kamis, 5 Mei 2011
1. Jika kita mempelajari hakekat filsafat, siapa yang akan mempelajari hakekatnya hakekat?
Unsur-unsur filsafat diantaranya adalah:
Ontology
Epistemology
Aksiologi
Dari ketiga unsur di atas, maka ada kaitan dari masing-masing unsur.
Ontologinya ontology adalah hakekatnya hakekat. Jadi dalam hal ini kita mempelajari hakekat dari hakekat itu sendiri. Ontologinya epistemology adalah hakekat cara. Dalam hal ini, hakekat cara menjelaskan hakekat dari metode-metode atau cara-cara yang dilakukan manusia dalam mencapai tujuan tertentu. Sementara ontologinya aksiologi adalah hakekat dari nilai.
Epistemologynya aksiologi adalah mempelajari sumber-sumber aksiologi. Jadi di sini, kita menerangkan sesuatu agar kita memiliki alasan kuat untuk memutuskan sesuatu. Sebaliknya, aksiologinya epistemology adalah mempelajari atau mengkritisi cara.
Epistemoloinya antologi adalah metode dari hakekat. Jadi dalam hal ini, yang dipelajari adalah metode untuk mempelajari hakekat. Sedangkan ontologinya epistemology adalah hakekatnya cara. Hakekatnya cara tidak serta merta membicarakan tentang masalah benar dan salah tetapi lebih menyangkut etik dan estetikanya epistemology.
Epistemologinya epistemology sendiri adalah keberkaitan metode dari metode itu sendiri. Jadi lebih banyak menerangkan tentang etik dan estetika. Misalnya saja ketika berbicara mengenai ritual, maka yang dibahas di sana bukan tentang alasan atau tujuan menyelenggarakan ritual tersebut, tetapi lebih membicarakan tentang nilai-nilai tersembunyai dari adanya ritual-ritual tersebut.
Aksiologinya ontology membahas nilai dari hakekat. Ketika kita membicarakan hakekat, maka kita tidak boleh dan tidak bisa membicarakan hakekat itu di sembarang tempat.
Aksiologinya aksiologi lebih banyak membicarakan tentang etis secara etik. Misalnya saja dalam pernikahan Jawa. Banyak sekali ritual-ritual yang diselenggarakan di sana. Akan tetapi, ternyata secara implisit, ritual-ritual yang diselenggarakan tersebut memiliki makna masing-masing. Terutama dalam memberikan nasehat atau ‘wejangan’ tentang keluarga, khususnya untuk pasangan pengantin. Contoh ritual dalam pernikahan Jawa misalnya kocar kacir (ritual di mana pengantin pria menuangkan beras dan pengantin putri menerimanya) ditafsirkan tentang kewajiban dan tanggung jawab suami kepada istrinya yaitu dalam memberi nafkah.
Jadi, selalu ada kaitan erat dari masing-masing unsur filsafat yaitu ontology, epistemology, dan aksiologi. Sementara itu, jika kita mempelajari hakekat filsafat dan yang mengetahui lebih dalam itu adalah para filsuf, maka ketika kita mempelajari hakekatnya hakekat, maka yang mengetahui lebih banyak adalah Sang Maha Mengetahui itu sendiri.
2. Bagaimana caranya mengajak orang lain untuk sholat?
Ketika kita ingin mengingatkan orang lain untuk mengerjakan suatu kebaikan apalagi kewajiban, maka kita tidak bisa serta merta hanya ‘berceramah’. Tidak bisa hanya berhenti pada tingkat memberitahu, tetapi harus disertai dengan tindakan nyata yaitu mengajak. Tindakan nyata ini tentu saja memerlukan usaha yang besar dan tidak mudah. Oleh karena itu,dari keempat nilai kehidupan, spiritual menduduki peringkat teratas. Secara urut, di bawahnya ada normative, formal, dan material. Untuk melakukan tindakan nyata ‘mengajak’ tersebut, maka kita harus menjadi guru spiritual dari orang tersebut. Yang tidak hanya memberitahu tetapi juga mengajak bahkan memberikan contoh yang benar.
3. Bagaimana peran filsafat dalam pembangunan bangsa?
Filsafat akan sangat berperan dalam pembangunan bangsa ketika pemimpin kita menggunakan filsafat untuk ‘eksploitasi’ orang lain. Maka pemimpin tersebut tidak akan serta merta menentukan sesuatu hanya dipandang dari sudut terpenting saja, melainkan akan dipertimbangkan dan ditentukan setelah memandang banyak sudut. Ketika kita membicarakan tentang pendidikan karakter misalnya, kita tidak hanya berbicara tentang pendidikan yang membawa kemanfaatan dilihat dari karakternya. Karena di sini, karakter itu sendiri berarti dari siapa untuk siapa. Jadi sangat relative sekali karena karakter itu tergantung pada masing-masing orang. Maka dari itu, perlu ditinjau lebih dalam lagi jika kita akan membicarakan karakter. Pembicaraan ini akan sangat menyangkut dengan filsafat juga. Karena ketika kita berfilsafat, maka sifat dari filsafat itu sendiri adalah open ended (berakhir dengan keterbukaan). Jadi tidak ada paksaan untuk mempelajarinya karena ia akan mengalir dalam jiwa seseorang.
4. Bagaimana memahami karakter siswa dengan komunikasi?
Memahami karakter siswa memang salah satunya dengan komunikasi. Jika berjalan dengan baik, maka akan terjalin komunikasi yang efektif sehingga kita bisa memahami karakter siswa. Untuk dunia yang sudah berbasis teknologi seperti sekarang ini, berkomunikasi bisa dijalin melalui banyak pintu. Salah satunya adalah dunia maya. Komunikasi dengan siswa bisa juga melalui media ini karena bisa sangat mendukung.
5. Apakah wayang berkaitan dengan filsafat?
Wayang adalah salah satu bentuk atau contoh dari aksiologi. Banyak sekali nilai-nilai yang didapatkan dari wayang. Memang tidak semua bisa didapatkan secara langsung (eksplisit), tetapi memerlukan penjelasan yang lebih mendalam akan unsur-unsur atau symbol-simbol yang digunakan dalam wayang . Di sinilah peran filsafat lebih jauh karena dapat menjelaskan dengan lebih jelas.
6. Bagaimana cara menghilangkan gugup?
Cara menghilangkan gugup adalah dengan berdoa. Karena ketika kita gugup, maka yang mengalami gugup adalah hati kita. Gugup dan panic hati tersebut disebabkan oleh godaan setan. Oleh karena itu, untuk berlindung dari godaan setan tersebut, yang dapat kita lakukan adalah berdoa.
Berbeda ketika kita mengalami panic atau gugup pikiran. Ketika yang terjadi adalah panic pikiran, maka kita justru bersyukur karena dengan panic pikiran tersebut, ternyata otak kita berkembang. Pikiran kita sedang berjalan dan berpikir kritis sehingga akan ada calon ilmu yang masuk ke pikiran kita. Maka sebaiknya kita terus mengasah otak kita agar semakin banyak ilmu yang kita dapatkan.
7. Apa hubungannya filsafat dengan sejarah?
Filsafat sangat berkaitan erat dengan sejarah. Filsafat adalah yang tadi, sekarang dan nanti. Jadi, jika sejarah membicarakan tentang sesuatu yang telah lewat, maka dalam hal ini tergolong yang tadi dalam filsafat. Oleh karena itu, filsafat memiliki peran yang sangat besar pula dalam menjelaskan sesuatu “yang tadi”. Dan akan banyak sekali manfaat yang akan kita peroleh dari membicarakan ‘yang tadi’ tersebut.
8. Apa hubungannya filsafat dengan gending jawa?
Filsafat dan gending jawa memiliki persamaan yaitu memiliki harmoni. Harmoni yang terjadi dig ending jawa adalah ketika ada satu suara yang berbunyi maka ternyata ada suara lain yang berbunyi bersamaan. Demikian pula dengan filsafat. Jika kita bisa menerapkan keharmonian itu, maka layaknya kita dapat merasakan perasaan orang lain itu sudah disebut dengan harmoni. Jadi keduanya bisa membuat kita sadar akan ruang dan waktu.
9. Mengapa Syekh Siti Jenar menganggap dirinya Tuhan?
Ketika kita sudah sampai pada ritual yang paling tinggi, maka kita tidak akan mampu mengendalikan pikiran kita. Karena di sana, yang mengendalikan kita adalah Sang Maha Pencipta. Ketika suatu saat kita merasakan sudah menyatu dengan Tuhan, maka apa yang kita lakukan tersebut adalah apa yang Tuhan kehendaki untuk kita. Akan tetapi, ketika kita mengklaim bahwa kita itu sama dengan Tuhan karena kita merasa bahwa kita sudah menyatu denganNya, maka tindakan kita ini adalah kesombongan. Seperti apa yang dilakukan oleh Syekh Siti jenar. Maka, dia tidak lagi dikendalikan lagi oleh Sang Pencipta, tetapi oleh hawa nafsunya karena kesombongannya.
10. Bagaimana menjadi orang yang bijaksana?
Kebijaksanaan yang sesungguhnya adalah miliki Tuhan semata. Orang hanya dapat berusaha untuk mendekati kebijaksanaan tersebut. Sementara itu, di dalam filsafat Barat, orang yang bijaksana adalah orang yang berilmu. Maka banyak orang yang berilmu akan dihormati karena diakui bijaksananya. Berbeda dengan di wilayah Timur, orang yang bijaksana adalah orang yang memberikan ilmu. Bukan memilikinya saja, tetapi juga memberikannya kepada orang lain. Di Jogja, orang yang bijaksana adalah orang yang memiliki karsa dan menerapkan ilmunya.
11. Bagaimana mengajarkan matematika inovatif?
Yang kita lakukan seharusnya bukan mengajarkan tetapi membelajarkan. Matematika inovatif itu sendiri adalah membelajarkan matematika di mana seorang pendidik tidak lagi berperang sebagai center tapi sebagai fasilitator. Dengan itu, kekreatifan siswa akan muncul. Hal ini terjadi dengan syarat merdeka atau bebas. Jadi siswa tersebut berada pada kondisi bebas, tidak di bawah tekanan. Yang dapat dilakukan fasilitator untuk mendukung munculnya kreatif pada siswa adalah dengan mengondisikan keadaan atau suasana. Dengan demikian, kreatif akan muncul sendiri tanpa kita harus meminta para siswa.
12. Bagaimana kita menghargai waktu?
Waktu sangat berharga. Bahkan ada yang mengatakan bahwa waktu adalah uang. Ketika kita mengabaikan waktu, sebenarnya tidak serta merta kita mengabaikannya. Akan tetapi, kita sedang menghargai waktu untuk hal lain. Karena ketika kita menghargai waktu untuk hal tertentu, di satu sisi kita mengabaikan waktu tersebut untuk hal lain. Oleh karena itu, yang sangat diperlukan di sini adalah menempatkan kegiatan-kegiatan kita pada skala prioritas. Jadi kita akan benar-benar menghargai waktu pada porsinya ketika kita memang harus mengabaikan waktu kita untuk hal lain yang lebih penting.
Ditulis oleh Siti Kuryati
Pendidikan Matematika
08301241028
Rabu, 11 Mei 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar